APA ITU P4K?

  Last Update : Jumat, 3 Juli 2015

By : DEDI PRASETIAWAN, S.Psi

Kita semua tentu sudah familiar dengan istilah P3K atau Pertolongan Pertama Pada Kecelakaaan. Kali ini kami akan mengenalkan istilah baru yaitu P4K.

Apakah P4K itu?

P4K merupakan singkatan dari Pertolongan Psikologis Pertama Pada Keterguncangan. Istilah lainnya adalah Dukungan Psikologis Awal atau Psychological First Aid (PFA). Jika First Aid atau P3K adalah pertolongan yang mula-mula diberikan pada orang yang mengalami kecelakaan agar lukanya tidak terinfeksi dan mengalami kompikasi yang lebih parah, maka P4K adalah dukungan psikologis yang diberikan kepada orang-orang yang baru saja mengalami atau selamat dari musibah/bencana, untuk mencegah shock (keterguncangan) yang dialaminya menjadi gangguan jiwa yang lebih berat dan menetap. Sebagaimana P3K, P4K juga perlu dikuasai bukan hanya tenaga kesehatan, namun juga masyarakat awam untuk menolong dirinya sendiri, orang terdekat, dan anggota masyarakat lainnya.

Apa yang Dialami oleh Korban Bencana?

Musibah atau bencana sering terjadi meskipun tidak diharapkan. Musibah bisa terjadi pada skala besar seperti bencana alam atau perang, skala menengah semisal kecelakaan alat transportasi massal, atau skala pribadi di antaranya adalah penganiayaan atau pemerkosaan. Peristiwa-peristiwa tersebut dinamakan sebagai peristiwa traumatik. Trauma sendiri merupakan pengalaman mental yang luar biasa menyakitkan karena melampaui batas kemampuan untuk menanggungnya. Ciri-ciri peristiwa traumatik adalah sebagai berikut:

  1. Terjadi di luar kendali orang yang mengalaminya
  2. Mengancam kehidupan, bisa menyebabkan luka tubuh atau kehilangan nyawa
  3. Menimbulkan rasa takut dan tak berdaya yang mendalam bagi yang mengalaminya

 

Untuk diketahui, trauma berbeda dari stress. Stress adalah tanggapan orang terhadap hal-hal yang menekannya, sehingga menantang kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap tekanan-tekanan yang dialaminya tsb, sedangkan trauma merupakan keadaan dimana suatu peristiwa yang dialami oleh seseorang melampaui kemampuannya untuk mengatasinya.

STRESS

TRAUMA

  • tidak didahului dengan peristiwa traumatis
  • Trauma didahului dengan peristiwa traumatis
  • datangnya sedikit demi sedikit
  • datangnya mendadak
  • dampak buruknya bisa hilang sendiri jika sumber stress dihilangkan
  • dampak buruknya menetap meski peristiwanya sudah berlalu
  • pengaruhnya ke tiap orang berbeda-beda
  • pengaruhnya ke setiap orang rata-rata sama

Orang-orang yang baru saja mengalami musibah akan menunjukkan hal-hal berikut:

  • Tubuh: Lutut lemas, jantung berdebar, tubuh gemetaran
  • Pikiran: Kosong, bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan
  • Perasaan: Khawatir, cemas, ketakutan, panik
  • Perilaku: Duduk terdiam, lari, gelisah

 

Tiap orang dapat menunjukkan reaksi yang berbeda-beda dalam menghadapi musibah yang sama, akan tetapi ada satu tema yang sama yaitu kehilangan. Jika kita memberikan P4K, perlu dicamkan bahwa reaksi-reaksi di atas adalah hal yang wajar dalam menghadapi situasi yang tidak wajar.

Pada tahap lebih lanjut dapat terjadi hal-hal berikut:

  1. Mengalami kembali musibah tersebut dalam bentuk kilas balik, mimpi buruk, pikiran yang mengganggu, dll
  2. Berusaha menghindari hal-hal yang dapat membuatnya teringat kembali dengan peristiwa traumatis yang dialaminya
  3. Selalu waspada, gampang terkejut, sulit tidur, mudah tersinggung, sulit berkosentrasi

Karena itulah, penting bagi setiap orang untuk mengetahui tanda-tanda trauma yang muncul pada korban bencana agar segera dapat melakukan P4K sehingga trauma tidak berkembang menjadi gangguan jiwa yang sifatnya lebih parah dan menetap, yang membutuhkan penanganan profesional di bidang kesehatan jiwa dimana akan menguras lebih banyak waktu, pikiran, dan biaya. P4K yang diberikan secara tepat dan di awal waktu dapat membantu korban cepat memulihkan dirinya kembali seperti sebelum musibah.

Prinsip-prinsip P4K

Prinsip layanan kesehatan jiwa terhadap penyintas adalah sebagai berikut:

  1. Setiap orang memiliki kemampuan alami untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Orang yang mengalami kecelakaan dapat sembuh sendiri, akan tetapi P3K dapat menghindarkannya dari infeksi yang memperburuk kondisi lukanya. Demikian pula mereka yang mengalami musibah, meskipun dapat pulih kembali akan tetapi perlu didukung agar luka batinnya segera sembuh dan tidak bertambah parah. Karena itu, hendaknya tidak memposisikan mereka sebagai korban melainkan sebagai penyintas atau survivor (orang yang selamat dari musibah).
  2. Keberadaan dan dukungan dari orang lain sangat penting, terutama hubungan saling membantu antarsesama penyintas, setidaknya bisa meringankan beban penderitaan yang ditanggung
  3. Setiap penyintas memiliki kebutuhan yang berbeda dari yang lainnya, sehingga penting untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan penyintas di setiap tingkatnya.
  4. Terintegrasi pada struktur yang ada. Alangkah baiknya upaya memberikan P4K dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan penolong lainnya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih.

Prinsip dasar P4K adalah sebagai berikut:

  1. Ciptakan rasa aman, dengan cara memenuhi kebutuhan dasarnya. Jika terpisah dari keluarganya, pertemukan kembali. Jika butuh informasi, sediakanlah informasi yang dapat dipercaya.
  2. Ciptakan keberfungsian, yaitu diajak untuk berpikir lebih jernih guna memahami situasi yang dialaminya dan apa saja yang dapat dilakukannya untuk mengatasi masalah yang ada.
  3. Membantu merencanakan tindak lanjut. Tujuannya adalah agar setelah bencana berlalu, ybs dapat menjalani hidup secara normal. Karena itu, motivasilah orang-orang di sekitarnya untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Yang Boleh Dilakukan

  1. Yang paling utama: Perhatikan betul latar belakang dan kebutuhan penyintas, apakah ia bisa menerima kehadiran orang asing atau tidak, maukah ia menerima sentuhan, dll;
  2. Hadir bersama penyintas, maksudnya adalah menemaninya meskipun tidak berarti kita merangkulnya atau mengajaknya bicara;
  3. Dengarkan dan terimalah apapun yang diucapkannya, ketika penyintas menyangkal musibah yang telah terjadi, marah/menyalahkan orang lain, atau berandai-andai (mengucapkan kalimat pengandaian “Kalau saja…”). Tidak berarti kita mengiyakan, cukup menunjukkan kalau kita sedang menyimaknya;
  4. Penuhilah kebutuhan dasarnya saat itu, misalnya air minum, tissue untuk menghapus air mata, ingatkan untuk makan atau tidur, dll;
  5. Memberikan pernyataan empatis, misalnya “Saya memang tidak bisa ikut merasakan apa yang ibu rasakan, tapi saya percaya pastilah berat rasanya kehilangan keluarga dalam seketika.”
  6. Membiarkan penyintas mengekspresikan kedukaannya, selama tidak membahayakan diri dan orang lain, misalnya saat penyintas menangis.
  7. Hubungkan dengan penolong lainnya untuk mendapatkan pertolongan tahap selanjutnya, sesuai kebutuhan penyintas.
  8. Menghormati dan bekerja sama dengan profesi lain yang tengah menjalankan tugasnya

Yang TIDAK Boleh Dilakukan

  1. Menasehati atau mengkhotbahi, misalnya “Relakanlah, tuhan lebih sayang kepadanya.” Nasehat bisa diberikan setelah penyintas mencapai tahap tertentu.
  2. Mendebat, misalnya “Memang benar, kalau suami anda meninggal, kok gak percaya sih?”
  3. Menyalahkan atau mengkritik, misalnya “Coba anda tadi tidak menyuruhnya keluar.”
  4. Mengancam, misalnya “Kalau ibu tidak berhenti meratap maka tuhan akan marah kepada ibu!”
  5. Menginterogasi, misalnya, “Memangnya bapak bagaimana nyetirnya kok bisa sampai kecelakaan?” Jika diperlukan boleh bertanya, namun harus dilakukan sebijak mungkin.
  6. Menyuruhnya berhenti menangis, misalnya dengan berkata “Sudahlah, jangan menangis terus.” Menenangkan boleh dilakukan lebih cepat manakala diperlukan, misalnya penggalian informasi seputar detil musibah yang dialami.
  7. Mengungkit kesedihan, misalnya “Padahal anakmu begitu lucu, sayang dia pergi begitu cepat.”
  8. Mengganggu atau mencampuri tugas profesi lain yang juga tengah memberikan pertolongan.

 

 

 


Kembali