Pelayanan Kesehatan menurut DR. FRANSISCUS ARIFIN, SpB

  Last Update : Jumat, 13 November 2015

Pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah sistem yang kompleks, yang melibatkan banyak orang , alat dan sumber daya. Semakin canggih dan menyeluruh, semakin banyak sumber daya yang terlibat. Dalam kondisi dimana terjadi hubungan, kerjasama dan interaksi yang beragam dan berulang, muncul peluang terjadinya kesalahan-kesalahan. Beberapa diantara kesalahan-kesalahan ini dapat terjadi secara berurutan dan beruntun sehingga pada akhirnya terjadi cedera pada pasien.
Besarnya Masalah
Semua sarana pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan memiliki keinginan yang mulia untuk memberikan bantuan kepada sesama manusia. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pelayanan rumah sakit saat ini masih memberikan peluang terjadinya cedera bahkan kematian pada pasien yang bukan karena perjalanan penyakitnya (kejadian sentinel).
Dalam buku yang diterbitkan oleh Institute of Medicine pada tahun 1999 berjudulTo Err is Human “ (Berbuat salah adalah manusiawi), dicantumkan bahwa di Amerika Serikat sedikitnya 44.000 orang dan bahkan bisa mencapai 98.000 orang meninggal dunia setiap tahun karena kesalahan medis yang dapat dicegah. Kita tidak mempunyai data yang akurat di Indonesia, tetapi diperkirakan mungkin lebih tinggi dari angka tersebut.
Kesalahan medik dapat diartikan bahwa tindakan yang direncanakan gagal terlaksana atau penggunaan rencana yang salah dalam mencapai tujuan. Kesalahan yang paling sering adalah efek samping obat, transfusi yang salah, cedera bedah, lokasi pembedahan yang salah, bunuh diri, cedera terkait penahan pasien, jatuh, terbakar, ulkus decubitus, dan kesalahan identitas pasien. Semakin kompleks dan semakin mendesak waktu (“Time Critical”) semakin besar kemungkinan kesalahan. ICU, kamar operasi dan ruang gawat darurat merupakan tempat dimana kesalahan memiliki peluang besar untuk terjadi.
Kenyataan bahwa frekuensi terjadinya kesalahan ini cukup besar meski niat baik sarana kesehatan dan petugas kesehatan (doktrin “Per primum , non nocere”, “yang paling utama jangan menyebabkan cedera (lebih parah)”), membuat kita menyadari bahwa tidak cukup hanya intensi yang baik dalam menolong pasien. Dibutuhkan upaya yang sistematis, terarah dan terus menerus  untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan rumah sakit untuk menghindari terjadinya cedera yang tidak perlu pada pasien.
Kita bisa mulai untuk mencoba mencegah kesalahan ini terjadi pada pasien kita pribadi. Namum yang lebih penting lagi adalah bersama-sama mencoba mengubah sistem yang ada sehingga peluang cidera menjadi berkurang bukan hanya untuk pasien kita pribadi, namun untuk semua pasien di rumah sakit ini.
Institute of Medicine merekomendasikan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Membuat komitmen dan kepemimpinan untuk keselamatan pasien
2. Belajar dari kesalahan dengan sistem pelaporan dan pencatatan serta analisis yang baik
3. Meningkatkan standar kinerja dan mutu pelayanan dalam keselamatan
4.Mengimplementasikan sistem keamanan pasien pada pelayanan


Kembali