Tahapan Penyediaan Obat

  Last Update : Senin, 25 September 2017

Pada saat menembus resep di instalasi farmasi rumah sakit, mungkin kita pernah merasa lama menunggu obat diserahkan, hingga kita bertanya-tanyaapa sih yang dikerjakan petugas farmasi? Kenapa lama sekali, kan obatnya tidak diracik? Untuk itu mari kita telusuri tahapan pekerjaan yang dilakukan di instalasi farmasi.

Pemerintah telah mengatur mengenai pelayanan kefarmasian di rumah sakit melalui instalasi farmasi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit,Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

Pada saat menerima resep, apoteker melakukan pengkajian resep. Pengkajian Resep dilakukan untuk menganalisa adanya masalah terkait Obat, bila ditemukan masalah terkait Obat harus dikonsultasikan kepada dokter penulis Resep. Apoteker harus melakukan pengkajian Resep sesuai persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.

Persyaratan administrasi meliputi:

  1. nama, umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan pasien;
  2. nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter;
  3. tanggal Resep; dan
  4. ruangan/unit asal Resep.

 

Persyaratan farmasetik meliputi:

  1. nama Obat, bentuk dan kekuatan sediaan;
  2. dosis dan Jumlah Obat;
  3. stabilitas; dan
  4. aturan dan cara penggunaan.

 

Persyaratan klinis meliputi:

  1. ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat;
  2. duplikasi pengobatan;
  3. alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD);

Jika setelah pengkajian resepditemukan adanya ketidaksesuaian maka apoteker akan menghubungi dokter penulisresep untuk melakukan konfirmasi.

Tahap dispensing dimulai dengan menyiapkan obat, menghitung jumlah obat yang dibutuhkan lalu mengambil obat dengan memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat. Ketika pengambilan obat, petugas farmasi harus menulis tanggal pengambilan obat, kode resep, jumlah obat yang diambil dan sisanya di kartu stok setiap obat. Hal ini bertujuan untuk untuk mengetahui stok obat yang tersedia serta memudahkan tahap penelusuran jika terjadi kejadian tidak diingankan (KTD).

Selanjutnya petugas farmasi akan melakukan pemberian etiket / label memuat informasi nama pasien, jumlah obat, fungsi obat dan aturan pemakaian.Tahap penyiapan obat harus dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan resep guna menjaga mutu dan keselamatan pasien serta menghindari kesalahan penggunaan.

Setelah penyiapan obat dilakukan tahap penyerahan obat, sebelumnya apoteker akan melakukan pemeriksaan kembali terkait kesesuaian jumlah obat yang diberikan dan informasi yang tertera pada etiket. Kemudian apoteker menyerahkan obat yang disertai dengan pemberian informasi obat meliputi cara penggunaan obat, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat dan lain-lain.

Melihat tahapan penyediaan obat tersebut, dapat dilihat bahwa menyiapkan obat tidak dapat dilakukan secara cepat dan sembarangan, dibutuhkan kompetensi dan keahlian khusus guna menjamin mutu pelayanan dan keselamatan pasien.


Kembali