Testimoni Peserta Vaksinasi COVID-19

Feb 3, 2021 | Agenda, Berita

RSUD dr. Mohamad Soewandhie telah melakukan vaksinasi COVID-19 periode pertama semenjak tanggal 15 Januari 2021. Vaksinasi ini diikuti oleh seluruh tenaga kesehatan yang telah terdaftar ini telah berlangsung dengan lancar.

Peserta vaksinasi pertama, dr. Deo Indarto, Sp.JP, mengungkapkan bahwa vaksinasi ini berupakan hal yang penting dilakukan. “Vaksinasi ini bertujuan untuk mengurangi mortalitas (angka kematian) dan juga severitas (keberatan) COVID-19,” ucapnya.

Meski begitu, bukan berarti orang yang telah divaksin tidak dapat terinfeksi COVID-19 kembali. Terdapat kemungkinan orang yang telah divaksin tetap dapat tertular maupun menulari orang lain, namun kecil kemungkinan akan berada dalam kondisi yang buruk karena telah mendapat vaksin.

Oleh karena itu, perlu untuk tetap menerapkan protokol kesehatan 3M meskipun telah mendapatkan vaksin yaitu: Memakai Masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci Tangan dengan Sabun. 

Menurut dr. Deo, vaksin dapat membentuk antibodi tubuh untuk melawan virus COVID-19. Hal yang sama juga disampaikan oleh Fransisca Sri Murdiati, S.Kep.,Ns. yang telah menerima vaksin, “Karena vaksin ini terdiri dari dua dosis dan memiliki fungsi yang berbeda.”

Vaksinasi COVID-19 yang menggunakan SinoVac ini dilakukan dua kali. Vaksinasi pertama bertujuan untuk mengenalkan jenis virus ke dalam tubuh. Selang dua minggu setelah vaksinasi pertama, peserta vaksin akan mendapatkan dosis kedua yang bertujuan untuk membentuk antibodi tubuh agar dapat melawan virus tersebut.

Berdasarkan pengakuan dr. Deo dan Fransisca, keduanya tidak mengalami gejala efek samping yang berarti. Menurut dr. Deo, efek samping yang terjadi hanya sebatas membuat ia mengantuk selama 1-2 hari setelah vaksinasi.

Keduanya berharap agar proses vaksinasi dapat berjalan dengan lancar secara nasional. Perlu ada hubungan dua arah antara pemerintah serta masyarakat untuk saling mendukung satu sama lain. Selain itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi lebih terkait vaksinasi karena banyak disinformasi atau hoaks terkait vaksin yang mudah tersebar melalui media sosial.