Cara Mengelola Stress saat Pandemi

Mar 29, 2021 | Artikel Kesehatan

​Stress merupakan bagian dari proses adaptasi terhadap persoalan atau perubahan yang terjadi dalam hidup. Stress dapat dijumpai di berbagai tempat, baik itu di rumah, tempat kerja, lingkungan sekitar, dan sebagainya serta dapat berbentuk kecil, sedang, ataupun besar. Oleh karena itu, stress tidak dapat dihindari dan bersifat dasar netral. Saat ini, beberapa orang juga dapat terkena stress saat pandemi. Mengingat siapapun dapat mengalami stress dimanapun, dan kapanpun, stress harus dapat dihadapi dengan cara-cara yang objektif, proporsional, dan realistis.

Manusia dapat menghadapi stress dengan dua hasil yang berbeda: Menguntungkan atau merugikan. Stress dapat menjadi hal yang menguntungkan apabila kita dapat melakukan adaptasi dengan baik terhadap penyebab stress. Hal ini akan menyebabkan manusia menjadi lebih kuat dan siap dalam menghadapi permasalahan ataupun perubahan yang akan datang. Namun, stress dapat menjadi hal yang merugikan apabila gagal dihadapi serta menimbulkan penderitaan dan gangguan kejiwaan.

Siapa Saja yang Rentan Terkena Penyakit Mental?

Secara umum, terdapat beberapa kategori orang-orang yang lebih rentan terkena penyakit mental:

  1. Orang-orang yang sejak awal rentan terkena penyakit fisik, umumnya lebih rentan terkena penyakit mental.
  2. Anak-anak yang terkena stressor atau penyebab stress mungkin menerima gangguan mental pada saat itu juga masa mendatang.
  3. Lansia dengan kemampuan menghadapi perubahan yang semakin lama semakin berkurang.

Dalam masa pandemi seperti saat ini, terdapat beberapa kelompok orang lain yang juga rentan terkena penyakit mental. Hal ini disebabkan dalam masa pandemi ini, hal yang dihadapi merupakan sesuatu yang tidak berbentuk dan lebih sulit dibayangkan. Kelompok orang tersebut adalah:

  1. Orang yang tengah terpapar.
  2. Keluarga serta lingkungan dari orang yang terpapar.
  3. Orang yang melayani serta melakukan perawatan bagi pasien yang terpapar.
  4. Orang yang harus menghadapi banyak orang sehingga lebih mungkin untuk terpapar.

Kapan Harus Periksa Kesehatan Jiwa Ketika Stress?

Secara umum, terdapat tiga kriteria bagi seseorang untuk segera melakukan pemeriksaan kesehatan jiwa ke tenaga profesional saat menghadapi stress:

  1. Saat stress sudah menimbulkan gejala-gejala seperti menjadi paranoid, mudah khawatir dan cemas, susah untuk tidur, mudah terbawa emosi, dan lain-lain.
  2. Saat stress sudah menimbulkan penderitaan.
  3. Saat penderitaan tersebut sudah mempengaruhi kualitas hidupnya sehingga tidak dapat menjalankan kehidupan sehari-hari sebagaimana mestinya.

Apabila ketiga hal tersebut sudah dialami penderita stress, maka kemungkinan orang tersebut sudah termasuk dalam kategori ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Namun, seseorang yang tengah menderita stress tidak harus menunggu tiga kriteria tersebut terpenuhi untuk mendapatkan dukungan, melainkan dapat dibantu dengan berbicara/curhat dengan keluarga, teman, dan komunitas yang diikuti.

Mengatasi Stress saat Pandemi

Mengingat pada masa pandemi banyak perubahan dan tekanan yang timbul secara cepat, maka tidak menutup kemungkinan bagi seseorang untuk mengalami stress. Sebagai contoh, orang tua yang mengalami stress akibat perubahan gaya belajar anak yang harus bersekolah di rumah selama masa pandemi.

Secara umum, terdapat beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi stress:

  1. Ciptakan pola pikir yang terbalik, dari negative thinking ke positive thinking.

Kita dapat mengubah cara pola pikir kita terhadap hal yang negatif menjadi hal yang positif. Sebagai contoh, apabila sebelum masa pandemi kita jarang berkumpul dengan keluarga kita, selama pandemi kita dapat lebih dekat dan berinteraksi lebih intens dengan keluarga kita. Contoh lainnya, selama masa pandemi kita menjadi lebih perhatian terhadap kesehatan serta kebersihan diri kita serta keluarga. Dengan menciptakan pola pikir seperti ini, kita telah mengubah stress yang pada awalnya berdampak negatif menjadi sesuatu yang positif.

  1. Cari dukungan dari teman dan keluarga.

Berbicara dengan teman serta keluarga dapat menjadi hal yang penting saat dalam kondisi stress. Dengan berkomunikasi, selain kita dapat mencurahkan isi hati terhadap permasalahan yang tengah dihadapi, juga dapat mendekatkan hubungan dengan orang tersebut.

  1. Saring informasi yang kurang baik.

Dengan semakin mudah serta terbukanya akses untuk mendapatkan informasi, kita perlu menyaring informasi apa saja yang sebaiknya kita terima. Hal ini disebabkan apabila ada informasi buruk yang masuk ke dalam pikiran kita, maka akan membuat pikiran terfokus pada informasi-informasi buruk tersebut yang menyebabkan orang menjadi lebih sulit untuk menghadapi stress.

  1. Jangan takut akan perubahan dan stress.

Stress akan muncul dengan sendirinya, kapanpun, dan dimanapun. Oleh karena itu, jangan takut akan stress serta perubahan ataupun masalah yang dapat memicu stress. Ciptakan pola pikir yang objektif, proporsional, serta rasional dalam mengatasi permasalahan serta perubahan yang akan terjadi.

 

dr. Agung Budi Setiawan, Sp.KJ

Dokter Spesialis Jiwa